teringatnya aku akan seorang dari masa yang telah berlalu, teringatnya aku akan semua kasihnya, teringatnya aku akan betapa cerewetnya dia akan hidupku, teringat betapa sayang dan pedulinya dia padaku, teringat akan kata sayangnya padaku, teringat betapa merengkuhnya dia padaku, teringat betapa sakitnya luka yang dia tinggalkan, teringat kali pertama dia membohongi aku, teringat akan kebodohanku yang tak memberinya kesempatan kedua, teringat berapa banyak air yang keluar dari mataku ketika dia tak pamit, teringat betapa jauhnya dia,,, sekarang semua terasa manis…
Dua tahun sudah tanpa dia, masih terasa betapa naifnya aku dulu. Mungkin dia bisa dibilang orang pertama yang mengajarkan aku bersikap dewasa, dan dia juga orang yang akan selalu teringat bila ku mulai menyerah dan jatuh,,, kenangan akan menyenangkannya dia yang jua akan selalu menguatkan aku… dia,,,dia,,,dan dia…
Hmmm,,,, dulu, dalam tiap sujudku pada-Nya, selalu terucap “Jikalau dia ‘teman’ terbaik untukku maka dekatkanlah, jikalau tidak maka jauhkanlah, dan berikanlah hamba-Mu ini hati yang lapang”
Sekarang dia tak ada disini,,, aku coba dan harus kuterima apa adanya. Selalu dalam hati kutanamkan “Tuhan sangat sayang padaku, Ia melindungiku sebelum aku terluka nantinya.”
Tahu kenapa? karena sedari awal aku sendiri sudah tahu, ada sesuatu dari dia yang akan membuatku terluka dan jauh darinya, tapi aku tetap saja tak beranjak… see how naif I’m??
Tapi tak tahu kenapa, aku selalu yakin bahwa Tuhan akan memberiku kesempatan kedua untuk bertemu dengan dia… jika memang benar, kan kukatakan betapa sayangnya aku dengan dia, betapa sedihnya aku ketika dia tak pamit, betapa aku merasa bodoh akan keegoisan dan keras kepalaku… kan kukatakan maaf,,,